Dunia akan Penuh Makna jika Anggi Menulis untuk Kalian

Archive for May, 2015

#tripMeSra: Ngeteng Ganteng ke Melaka

Kelihatannya nggak sulit-sulit amat™ menuju Malaysia dari Singapore lewat darat. Dan itu terbukti saat perjalanan saya menuju Melaka. Mungkin ada bus langsung Singapore-Melaka. Tapi biar lebih hemat saya transit dulu di Johor. Jadi dari Singapore saya pake bus Causeway Link, naik di Queen Street lalu turunnya di Terminal Larkin. Selama perjalanan, bus akan berhenti di dua imigrasi untuk keluar dari Singapore dan masuk ke Malaysia. Saat kita turun di Imigrasi pastikan barang-barang dibawa semua. Setelah sukses mendapat cap kita naik lagi ke bus dengan merek yang sama, nggak harus bus yang tadi. Jadi tiket harus disimpan sebagai bukti kalo kita emang penumpang bus dengan merek itu atau terpaksa harus bayar lagi di bus nanti.

Perjalanan Singapore-Johor ternyata nggak begitu lama, apalagi kalo nggak ada antrian panjang di imigrasi. Tidur di bus pun hanya menjadi wacana semata. Singapore-Johor hanya dihubungkan oleh jembatan, kira-kira sepanjang 1 km. Selain kendaraan pribadi dan bus, ternyata ada juga lho yang bawa motor. Bahkan yang jalan kaki di jembatan itu pun ada. Hahaha pasti cape diterpa angin. Dan setelah dapet cap Malaysia jangan merasa kalo udah nyampe tujuan. Karena terminal yang sepaket dengan imigrasi itu adalah JB Sentral. Terminal Larkin masih harus ditempuh beberapa kilometer lagi.

Begitu nyampe Terminal Larkin, turunlah dari bus dengan gaya yang sangat bersahaja. Jangan kelihatan bingung. Karena calo akan segera menyerbu calon penumpang dengan gesitnya. Bentuk Terminal Larkin ini 11 12 lah sama terminal-terminal yang ada di Indonesia pada umumnya, suasananya udah beda kayak negara yang ada di selatannya. Haha.. Biar nggak terjebak oleh godaan calo mending udah punya pilihan mau naik bus apa, sukur-sukur kalo sempet beli online. Saat itu saya sudah mempercayakan kepada (lagi-lagi) Causeway Link. Loketnya gampang dicari karena tulisan Causeway Link memang terpampang nyata di sana.

Terminal Larkin ini sepaket sama pasar. Dan kayaknya terminal-terminal di Malaysia ini selalu jadi satu sama pusat perbelanjaan deh, di Melaka Sentral dan JB Sentral juga sama. Jadi kalo pas nunggu jadwal bus berangkat bisa sambil belanja atau sekedar cuci mata. Deket Terminal Larkin juga ada McD/KFC. Sapa tau gengsi kalo nongkrongnya di pasar.

Perjalanan ke Melaka dari Terminal Larkin memakan waktu kira-kira 3 jam. Bisa lebih kalau macet. Jangan harap mendapat pemandangan indah selama perjalanan. Mending tidur aja. Karena jalanan di Malaysia itu rata-rata isinya kebun sawit dan kebun karet. Hampir mirip sama jalan lintas Sumatera. Cuman bedanya kalo di Malaysia udah pake jalan tol.

Setelah tiga jam perjalanan, sampe juga di Melaka Sentral. Udah malem. Sepi. Tujuan utama kami adalah cari penginapan yang bisa dijangkau dengan berjalan kaki dari sekitaran Kota Tua. Saya hanya berbekal Google Maps yang udah ada bintangnya. Entah apa itu nama tujuannya. Kota Tua? Red Building? Pokoknya kami sekarang ada di sini dan akan menuju ke sini. Niat awal mau jalan kaki. Cuman berhubung ada yang pengen berjumpa dengan tandas dan kok kayaknya jauh juga ya, akhirnya kami malah naik taksi. Trus bilangnya mau cari penginepan. Dan sama si supir taksi itu dicarikan hotel yang harganya kurang bersahabat. Yaudah kami minta diturunkan di Jonker Street aja.

Beruntung saat itu pas lagi weekend. Jadi banyak orang yang buka lapak di Jonker Street. Rata-rata yang berjualan di sana penduduk keturunan Chinese, karena emang daerah Chinatown juga sih. Yang dijual pun macem-macem, ada mainan, kaos kaki, makanan, minuman, ya sama lah kayak yang ada di Gasibu. Cuman buat jajan di sini harus memilah dan memilih juga. Bisa-bisa malah dapet makanan non halal. Itu tadi yang pengen ke tandas langsung melek melihat kemeriahan Jonker Street. Walaupun udah kemalaman sih, beberapa pedagang terlihat udah beres-beres untuk bersiap pulang. Dan kuliner kami malam itu hanya sebatas air jeruk yang ada semacam cincaunya, kentang spiral, dan carrot cake. Carrot cakenya pun sepiring berempat karena itu adalah piring terakhir yang mereka jual. Insya Allah halal ya. Ada sih tulisan no pork, tapi kan halal bukan cuma dilihat dari faktor daging babi doang. Hahaha..

Puas menjelajah Jonker Street, kini saatnya mencari penginapan. Dan lagi-lagi disertai drama. Ternyata susah go show di malam yang sepi tanpa bekal googling dahulu di mana daerah yang banyak penginapannya. Setelah kebingungan akhirnya GPS pun dipake. Gunakan Penduduk Sekitar! Dan saat itu yang terlihat hanya beberapa abang-abang becak. Salah seorang dari mereka menunjukkan salah satu jalan yang katanya banyak penginapannya. Kami segera capcus ke sana. Penginapan pertama yang kami masuki ternyata tidak memiliki kriteria kamar yang kami minta: dorm. Saat hendak beranjak dari tempat itu, bapak-bapak chinese yang menjaga penginapan itu malah mengantar kami menuju penginapan yang katanya ada dormnya.

Dapatlah penginapan milik encik-encik keturunan India namanya Raymond’s Boutique Travellers Home. Ternyata bukan dorm, tapi kamar dengan kapasitas 4 orang. Dan harganya sesuai. Lah kebetulan banget! Langsung deh deal, mengisi data-data yang diperlukan, dan menuju kamar karena udah cape banget. Saking excitednya sampe lupa berterima kasih sama bapak-bapak chinese yang telah menyelamatkan anak-anak terlantar. Kamarnya lumayan lah, bersih, ber-AC, wifi kenceng, dan kamar mandi di luar pake air panas. Kami pun segera mandi, sholat, tidur nyenyak, dan hidup bahagia selamanya.

Advertisements

#tripMeSra: Menjamah Singapore

Oke lupakan drama di postingan sebelumnya karena kisah pengkhianatan itu hanya akan menimbulkan nestapa. :)) Nggak ada internet bukan berarti nggak bisa kirim SMS kan ya. Baru nyadar kalo nomer halo saya yang lama udah aktif roaming internasional. Mwahaha.. Dan singkat cerita saya udah ada di salah satu kamar di Village Hotel Bugis yang mayan banget buat ukuran gembel. Bahkan kalaupun tidur di bawah pake karpet udah bisa dibilang nyaman, sekre HMIF lewat dah. Tapi yang tidur di bawah bukan saya sih, jadi nggak tau juga sebenernya nyaman apa nggak. :)) Dan kelelahan berdrama langsung luntur begitu mandi di bawah shower air panas.

Keesokan paginya saya beserta pasukan segera bersiap-siap buat jalan-jalan entah ke mana. Ya pokoknya cari makan dulu lah ya. Dan murtabak rusa menjadi jodoh untuk membuka hari kemerdekaan ini. Tempatnya ada di sebelah utara persis Masjid Sultan. Deket banget dari hotel, tinggal jalan kaki 27 langkah. Harga murtabak rusa ini dua kali lipat dari murtabak sapi atau kambing. Rasanya hambar, lebih nampol martabak Rahayu deh. Tapi ya patut dicoba sih.

Setelah sarapan ganteng, kami segera berjalan kaki ke Stasiun Bugis buat menuju ke Merlion. Kami turun di Raffles Place. Dari situ kemudian kami jalan kaki menyusuri Singapore River. Bakat narsis pun keluar selama perjalanan ke Merlion.

Nah jadi Merlion itu cuma gitu aja ya. Haha.. Semacam patung hasil fusion antara Ariel dan Simba yang menyemburkan air dari mulutnya. Tapi ya tetep sih kalo pertama ke Singapore naluri buat foto di situ pasti sangat tinggi. Sehabis dari Merlion kami jalan lagi menyusuri Sungai Singapore di sisi seberangnya buat menuju ke Marina Bay Sand dan Garden by the Bay. Nggak, nggak kok. Ke Marina Bay Sand cuma di serambinya aja, nggak sampe ke atas sana.

Garden by the Bay itu sejenis taman buatan. Saking sedikitnya lahan hijau di Singapore, mereka pun sampe niat bikin taman. Kalo malem lebih bagus tuh, gemerlap lampu menghiasi super tree. Buat masuk sini gratis. Dan mungkin karena gratis tempat ini jadi dipenuhi sama mbak-mbak ‘expat’ dari Indonesia yang fasih berbahasa Jawa ngapak. Tapi ada beberapa spot yang berbayar juga, sapa tau penasaran gimana rasanya menyeberangi jembatan sirotol mustaqim yang menghubungkan antar super tree.

Agenda selanjutnya adalah makan. Sempat kepikiran buat ke KBRI, sapa tau ada makan gratis 17an. Haha nggak deng, mana ada nyali. Biar gampang mau makan apa akhirnya kami balik ke Bugis aja. Trus nyari RUMAH MAKAN PADANG di deket Masjid Sultan. Biarin deh jauh-jauh ke Singapore makannya makanan Padang, mikirnya biar puas sekalian. Menurut ngana kenyang makan murtabak rusa buat berempat tanpa nasi HAH??

Setelah makan, sebagai orang yang beriman kami melipir ke Masjid Sultan buat sholat dan refill air minum. Haha..airnya dingin seger, jadi air yang udah dibawa ke mana-mana tadi mending saya buang ganti yang baru aja. Inilah kehebatan Singapore, air keran bisa diminum langsung tanpa dimasak. Keran nganggur itu rejeki banget daripada keluar duit buat beli air di Sevel.

Dan tiba saatnya untuk meninggalkan Singapore. Bus menuju ke Johor bisa didapat di Queen Street. Ternyata ga jauh juga dari hotel. Tinggal berjalan kaki 69 langkah ke utara. Ada dua bus di sana, saat itu kami memilih Causeway Link sesuai rekomendasi mainstream blogger Indonesia. Kita harus antri dulu di line yang udah disediakan. Setelah itu baru bayar tiket. Harganya kalo ga salah 2.9 SGD.

Good bye Singapore. See you the day after tomorrow. Saya mau bobo bentar di bus.